Breaking

Post Top Ad

10/31/2023

APAKAH KURIKULUM MERDEKA BELAJAR SUDAH SANGAT TEPAT DITERAPKAN DI INDONESIA

 


Penulis : Siti Mutmainah, S.Pd Guru SMA Negeri Driyorejo. 


Indonesia merupakan salah satu negara berkembang selalu berkeinginan untuk menjadi negara maju dalam segala hal, termasuk dalam dunia pendidkan. Carut-marut pendidikan di Indonesa begitu kompleks. Bahkan setiap ganti jajaran di pemerintahan cenderung opini masyarakat terbentuk bahwa gant menteri pendidikan pasti ganti kurikulum.


Indonesia terlampau silau melihat kesuksesan pendidikan negera lain. Selalu bangga dengan hasil pendidikan Jepang, Finlandia, Amerika, dan lainnya. Negara-negera tersebut menjadi kiblat adopsi berbagai aspek kurikulumnya, cara mengajarnya lalu dikombinasikan. 


Fatalnya aspek yang mendasari keberhasilan itu tidak pernah dikaji, yaitu bahan dasar kesuksesan pendidikan negara tersebut apa? Para petinggi/jajaran pendidikan Indonesia selalu fokus melihat barang jadinya. Modal apa yang dimiliki Indonesia untuk mewujudkan pendidikan seperti negara-negara tersebut di kesampingkan. Ibarat kita melihat rumput tetangga lebih hijau tapi kita lupa apa alasan dasar yang membuat rumput tersebut hijau.


Rasanya tidak perlu menutupi lagi, bahwa telah ada bagian yang hilang dari pendidikan Indonesia. Pertama, budaya dan iklim sekolah telah tercabut dari jiwa-raga pendidikan Indonesia. Keduanya, terasing dalam orientasi kajian dan luput menjadi atribut penentu. Upaya pengkondisian peserta didik selalu menjadi pemikiran utama. Sehingga, berbagai cara mengotak atik ragam strategi, model, metode, serta teknik pembelajaran selalu menjadi sajian primadona. Seolah problem utamanya adalah persoalan tentang cara dan metode. 


Perlu dipahami bahwa, cara dan metode yang sama tidak dapat berjalan pada situasi dan kondisi yang berbeda. Sinergitas sekolah, guru, keluarga, lingkungan sangat mempengaruhi untuk merealisasikan mimpi kesuksesan. Budaya sekolah memiliki korelasi positif dengan prestasi belajar. 

Michael Fullan, mengatakan bahwa budaya sekolah yang kuat dan inklusif adalah kunci dalam meningkatkan pembelajaran siswa dan mencapai hasil yang berkelanjutan. Budaya dan iklim sekolah juga mempengaruhi kinerja guru mengenai peningkatan cara mengajarnya. 


Dari sini, sesungguhnya pemangku kebijakan pendidikan perlu melakukan refleksi. Sejauh mana budaya dan iklim sekolah di masing-masing tempat bekerja? Apakah belajar itu hanya fokus untuk peserta didik? Apakah kepala sekolah dan guru pernah bertanya, sudahkah semua menjadi pembelajar?

Semenjak Ujian Nasional dihilangkan dan berganti AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) dengan fokus literasi, numerasi, dan karakter. Hal tersebut sontak memantik jajaran kependidikan dari hulu hingga hilir memproritaskan pentingnya literasi. Peserta didik dipacu untuk gemar membaca, menulis, dan berlogika. Pertanyaan yang menggelitik emangnya guru-guru sudah membaca buku atau jurnal? Berapa banyak buku yang dimiliki? Apakah sekolah sudah membangun perpustakaan yang nyaman dengan koleksi buku yang beragam dan teraktual? 

Keinginan dan kebutuhan untuk belajar harus diposisikan sebagai pondasi perwujudan budaya dan iklim sekolah. Jika unsur kebutuhan dan keinginan peserta didik tidak dilibatkan secara penuh, proses pembelajaran akan terus berkutat pada standarisasi. 


Banyak pelajar yang saat ini mengalami keraguan dalam dirinya terindikasi dengan mengatakan aku tak suka dengan pelajaran tertentu karena beberapa hal, antara lain : apa manfaat, tujuan aku mempelajari pelajaran ini? apa ada hubungannya dengan realita sehari-hari? Dalam pembelajaran aku tidak dilibatkan, hanya diperintah saja. Apa ukurannya agar aku dinyatakan berhasil ? materi, cara penyampaian absurd, tidak menarik, membosankan, tidak sesuai minat, bakat, gaya belajarku. Bahan ajarnya monotone, tidak menantang. Aku hanya dijejali materi, bukan diasah kompetensiku. Minat, bakat potensiku tidak dioptimalkan.


Program Kurikulum Merdeka awalnya dibuat sebagai respons terhadap hasil Program for International Student Assessment (PISA) yang menunjukkan bahwa sekitar 70% peserta didik Indonesia memiliki kemampuan di bawah minimum dalam pemahaman membaca atau penerapan konsep konsep dasar matematika. Kurikulum Merdeka diciptakan untuk mengatasi krisis pendidikan di Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Kurikulum Merdeka ini sebagai program nasional.


Penerapan Kurikulum Merdeka mengacu pada proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan yang lebih terdiferensiasi, yaitu yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan individu peserta didik dengan memberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan tingkat kemampuan, minat, dan gaya belajar setiap peserta didik.


Tujuan dilaksanakannya Kurikulum Merdeka adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik dan guru, yang membahas pengembangan aspek keterampilan dan kepribadian sesuai nilai-nilai bangsa Indonesia. 


Kurikulum Merdeka merupakan sebuah inovasi baru dalam dunia pendidikan di Indonesia yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kapasitas peserta didik yang kurang terlayani serta dapat membangun tingkat kepercayaan diri untuk masa depan yang lebih fokus.

Pada tahun 2045, Indonesia mempunyai cita-cita menjadi negara maju sejajar dengan negara maju lainnya. Untuk mewujudkan “Indonesia Emas 2045” diperlukan persiapan untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia yang unggul, berkualitas, individualistis, dan beradab.


Peserta didik masa kini merupakan sumber daya manusia Indonesia yang akan membawa dan menentukan kemajuan Indonesia di masa depan dan menjadi tolok ukur berhasil tidaknya visi dan misi “Indonesia Emas 2045”. 


Maka dari itu, pendidikan Indonesia harus segera meningkatkan keadaban publik pada peserta didik. Jika tidak, berbagai kasus kekerasan akan terus terjadi, pelakunya adalah para peserta didik itu sendiri. Oleh sebab itu, sangat penting praktik pembelajaran di sekolah tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan keterampilan lulusan, baik soft skill maupun hard skill, agar lebih siap dan adaptif terhadap kebutuhan zaman atau lebih baik disesuaikan dengan kebutuhan zaman.


Namun demikian, pemantapan pengalaman dan internalisasi nilai-nilai dan norma-norma yang beradab dalam pembelajaran sebenarnya di sekolah juga sangat penting. Jangan sampai dunia pendidikan hanya fokus pada sumber daya manusia unggul dunia kerja dan lupa memperkuat landasan dasar keadaban publik peserta didik. Hal ini dapat tercermin dari pengurangan jam mengajar di sekolah pada mata pelajaran yang meningkatkan keadaban publik umum peserta didik.


Di tengah gencarnya sosialisasi mengenai kurikulum merdeka, pemerintah mendorong seluruh elemen instansi pendidikan untuk melakukan gebrakan pada proses pembelajaran dengan mengaplikasikan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi.


Pendekatan ini berlandaskan pada konsep merdeka belajar yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara di mana proses pembelajaran adalah proses memanusiakan manusia dengan memberikan kebebasan berpikir baik bagi guru maupun peserta didik dalam menentukan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan produk belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat peserta didik. 


Pembelajaran berdiferensiasi diharapkan menjadi sarana belajar efektif untuk meningkatkan capaian belajar peserta didik melalui upaya akomodasi kebutuhan belajar dengan memerdekakan potensi yang dimiliki masing-masing individu. 


Penyelenggaraan Kurikulum Merdeka ini mempunyai empat aspek, yaitu komitmen terhadap pembelajaran dasar, menunjang keterampilan mengajar, menyasar kelompok tertentu, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan dan mempercepat kemajuan.


Kurikulum Merdeka juga mencakup 5 unsur utama: (1) tujuan pembelajaran, (2) materi, (3) strategi pembelajaran, (4) pengorganisasian program, (5) penilaian. Dari kelima komponen tersebut masing-masing mempunyai ciri efektif, efisien, dan berpusat pada peserta didik. Komponen-komponen tersebut saling berkaitan erat satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan.

Pembelajaran berdiferensiasi dengan mengacu pada aspek diferensiasi konten, proses, dan produk. 


Diferensiasi konten meliputi segala upaya pemberian materi kepada peserta didik berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan di awal pembelajaran. Penerapannya di kelas merujuk pada variasi materi yang berupa video, audio, kunjung materi dan presentasi power point. Sementara itu, aspek diferensiasi proses merupakan strategi dalam proses belajar yang bertujuan untuk mengoptimalkan pemahaman peserta didik tentang isi konten. 


Strategi ini diterapkan dengan melakukan perbedaan pada kegiatan belajar yakni secara individu, berpasangan, atau berkelompok. Yang terakhir adalah diferensiasi produk yang dimaknai sebagai hasil proses belajar peserta didik yang dikembangkan dalam sebuah produk belajar sesuai dengan minat dan gaya belajar. Penerapannya berupa variasi media yang digunakan peserta didik dalam menyampaikan atau mewujudkan pemahamannya seperti dengan menampilkan nyanyian, membuat video, melakukan mini drama, atau membuat poster. Lalu seberapa efektifkah penerapan pembelajaran berdiferensiasi terhadap capaian tujuan pembelajaran?

Dengan kolaborasi yang apik antara dua elemen utama pembelajaran yakni guru dan peserta didik, pembelajaran berdiferensiasi secara efektif mampu meningkatkan partisipasi aktif peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. 


Selain itu, dengan konsep memerdekakan, peserta didik dapat menangkap dan menggali informasi lebih mendalam terkait dengan materi yang diajarkan sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki. Oleh karenanya, pemahaman peserta didik jauh lebih berkembang dibanding saat mengaplikasikan pembelajaran menggunakan pendekatan konvensional. Hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian sumatif yang menunjukkan adanya peningkatan nilai dan terpenuhinya poin-poin dalam tujuan pembelajaran.

Tiga pilihan penerapan kurikulum mandiri bagi satuan pendidikan yang memilih menggunakan Kurikulum Merdeka tahun 2023/2024:


1.Pembelajaran mandiri : Satuan pendidikan menerapkan sejumlah prinsip kurikulum mandiri dalam melaksanakan Deploy learning dan asesmen namun selalu menggunakan kurikulum satuan pengajar yang sedang dikerahkan.


2.Perubahan Mandiri : Menggunakan kurikulum mandiri untuk mengembangkan kurikulum satuan pendidikan dan menerapkannya dalam pengajaran dan penilaian.

3.Berbagi secara mandiri : Gunakan Kurikulum Merdeka dalam pengembangan satuan pendidikan dan terapkan dalam penyampaian pembelajaran dan penilaian dengan komitmen berbagi praktik yang baik dengan satuan pendidik lainnya.


Pelaksanaan kurikulum merdeka, harus mengacu kepada Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 56 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Dalam kurikulum merdeka ada kegiatan pembelajaran dan asesmen. Dua kegiatan tersebut mempunyai prinsip-prinsip dalam pelaksanaannya. 


Prinsip pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Adapun prinsip pembelajarannya sebagai berikut: Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan peserta didik yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan. Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara holistik. Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra. Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.


Kurikulum Merdeka tentunya mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah adanya perubahan pembelajaran yang dialami peserta didik, seperti suasana belajar yang baru dan lebih mengutamakan peserta didik untuk lebih aktif dalam setiap pembelajaran, karena program ini sangat leluasa membuat peserta didik lebih kreatif dan mengeksplorasi berbagai hal yang mereka ingin ketahui. 


Dampak negatifnya, perubahan sistem kurikulum yang terlalu cepat dapat menimbulkan permasalahan seperti menurunnya prestasi peserta didik, tertinggalnya pendidikan di beberapa daerah, dan kurangnya fasilitas yang memadai untuk menunjang kelangsungan sistem pembelajaran pada Kurikulum Merdeka ini. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

your ads